Di balik setiap wajah yang kita jumpai, ada kisah yang nyaris tak pernah terucap.
Melalui Kios Pasar Sore dan Cerita Orang-Orang Biasa Lainnya, Reda Gaudiamo merangkai tiga puluh satu cerita pendek yang mengingatkan kita, bahwa hidup tidak pernah benar-benar biasa. Di tangan Reda, cerita orang-orang biasa berubah menjadi potret kehidupan yang hangat, lucu, dan terkadang menyayat—serta membuat kita sadar, mungkin kita pun salah satunya.
Layang-Layang merupakan komik kolaborasi yang diambil dari cerpen Seno Gumira Ajidarma dan diilustrasikan oleh Gerdi WK. Salah satu tokoh dalam cerita ini mungkin sudah tak asing lagi bagi pembaca karya-karya Seno Gumira Ajidarma: Sukab. Komik Layang-Layang bercerita tentang permainan layang-layang hingga sebuah peristiwa di luar nalar tentang keajaiban layang-layang buatan Sukab.
Buku Madilog karya Tan Malaka merupakan salah satu karya pemikiran terbesar dalam sejarah intelektual Indonesia. Mengusung tema Materialisme, Dialektika, dan Logika, buku ini bukan hanya sekadar bacaan filosofis, tetapi juga ajakan untuk membangun cara berpikir yang kritis, sistematis, dan membumi. Bagi siapa pun yang ingin memperdalam wawasan tentang filsafat, ilmu sosial, serta dasar-dasar berpikir rasional dalam menghadapi realitas bangsa, Madilog adalah bacaan yang wajib dimiliki. Buku ini sangat relevan, baik bagi pelajar, mahasiswa, akademisi, maupun siapa saja yang peduli pada perubahan sosial dan kemajuan pemikiran bangsa.
Umat manusia saat ini sedang berada dalam tahap “belajar” yang menyakitkan. Manusia dihadapkan pada kesulitan-kesulitan akibat ketidaktahuannya sendiri. Tatkala umat manusia belajar hidup dengan benar, belajar mengarahkan kekuatan mereka dan menggunakan fungsi dan kemampuan mereka dengan bijaksana, maka kehidupan akan berjalan dengan benar, dan semua “masalah kejahatan” pun akan sirna. Bagi orang bijak, semua masalah seperti itu sudah tak ada lagi.
“Orang dewasa yang hebat bukanlah mereka yang sempurna tanpa kesalahan, tetapi mereka yang belajar dari kesalahannya dan maju perlahan.”
Ada hal-hal yang baru disadari dalam proses pertumbuhan menjadi dewasa. Ada banyak hal di dunia ini yang membuat orang dewasa ingin menangis. Jauh lebih banyak daripada saat kita masih kecil, yang menangis hanya karena terjatuh. Banyaknya luka yang terukir di dalam hati selama hidup bukan makin berkurang, justru makin bertambah, hingga pada akhirnya perasaan ingin menangis itu muncul saat diri kita terusik akan hal yang sepele sekalipun. Meskipun luka yang lama telah mengeras menjadi koreng, tetapi saat muncul goresan baru di bagian yang lain rasanya akan sangat sakit.
Tidak perlu merasa goyah hanya karena ucapan kasar orang lain!
“Aku yang akan menentukan jalan hidupku.”
Kebahagiaan bukan hanya tentang hal-hal yang luar biasa dan keren. Ada kalanya hatiku terbebani oleh kenyataan bahwa diriku dapat menikmati pemandangan dedaunan dan berbagi makan malam sederhana dengan orang yang aku cintai. Jika kau menghargai potongan-potongan kecil dari kehidupanmu sehari-hari, maka hal itu akan menjadi sebuah kebahagiaan. Ini adalah hari untuk bersyukur karena kita masih bisa tertawa.
Saat rasa sakit dalam hidup datang secara mendadak dan menggoyahkan diri,
jangan coba terangi kegelapan dari malam yang menakutkan dan sepi itu seorang diri.
“Coba perhatikan lebih dahulu apakah ada luka yang memburuk di hatimu.”
“Di antara buku-buku puisi Indonesia yang terbit tahun ini, Misa Arwah adalah satu dari amat sedikit yang memikat saya.”
—
M. Aan Mansyur, penulis Melihat Api Bekerja
Novel ini menceritakan detik-detik menjelang, selama, dan setelah genosida Rwanda melalui sudut pandang berbagai tokoh dengan latar belakang berbeda. Dokter Karekezi, otak di balik pembantaian Murambi; Aloys Ndasingwa, jagal dan milisi Interahamwe; Jessica Kamanzi; penyintas sekaligus mata-mata tentara pemberontak; Cornelius Uvimana, eksil yang pulang dari pengasingan; hingga Kolonel Perrin, tentara yang merepresentasikan keterlibatan Prancis selama genosida Rwanda.