The Reprieve
The Reprieve adalah bagian kedua dari trilogi roads to freedom karya Jean-Paul Sartre. Dua novel lainnya adalah The Age Of reason dan Troubled Sleeo. Dalam Novel ini pergulatan tiga tokoh utama yang diangkat, mathieu, jacques, dan philippe, terasa begitu kental mendidihkan kecemasan akan adanya perang. Sartresangat piawai merangsek pikiran dan perasaan pembaca lewat peran ketiga tokoh tersebut hingga lekuk harapan, ketakutan, bahkan dialog penipuan-diri di setiap peristiwa. Demikian pula dengan tokoh-tokoh lainnya yang banyak bermunculan dalam novel ini.
THE RETURN OF SHERLOCK HOLMES
“We also have our diplomatic secret …”
—Sherlock Holmes—
The Stranger
Apa yang dicari orang-orang ini pada diriku bukanlah sesuatu yang bisa membuat mereka tertawa, melainkan tanda-tanda kejahatan.
The War of The Worlds
Jauh sebelum kisah invasi alien menjadi tren di film dan novel modern, The War of the Worlds karya H.G. Wells sudah lebih dulu menghadirkan cerita yang mengguncang imajinasi dunia. Dengan alur yang menegangkan dan penuh ketidakpastian, Wells mengajak pembaca menyaksikan bagaimana manusia menghadapi ancaman yang jauh melampaui teknologi dan pemahaman mereka. Tak heran, novel klasik ini masih dianggap sebagai salah satu tonggak penting dalam sejarah fiksi ilmiah dan terus memikat pembaca lintas generasi.
THOUSAND CRANES
“Ia berilusi betapa gadis Inamura tengah melangkah di bawah bayangan pepohonan, menjinjing saputangan merah muda berhias seribu bangau putih. Ia
Trabar Batalla
Trabar Batalla adalah ledakan imajinasi yang memperlihatkan betapa liarnya dunia dalam kepala Remy Sylado. Dengan bahasa yang kaya, jenaka, dan penuh sindiran cerdas, novel ini membawa pembaca masuk ke perjalanan yang tidak biasa—kadang absurd, kadang filosofis, tetapi selalu memikat. Buku ini cocok untuk kamu yang bosan dengan bacaan yang terasa aman dan ingin menikmati sastra dengan rasa yang lebih berani dan eksperimental.
ULID [Edisi 15 Tahun Hardcover]
Temukan kisah yang jujur, getir, dan lucu dalam Ulid, novel karya Mahfud Ikhwan yang menggambarkan kehidupan anak kampung dengan cara yang tidak biasa. Lewat sudut pandang Ulid—bocah cerdas, keras kepala, dan tajam lidah—kamu akan diajak menertawakan realita sosial yang pahit, menyentuh luka keluarga, hingga mempertanyakan mimpi di tengah keterbatasan. Ulid bukan sekadar cerita anak kecil, tapi potret besar tentang tumbuh di pinggiran, melawan nasib dengan akal dan kata-kata. Bagi kamu yang suka novel dengan kritik sosial yang halus tapi mengena, ini bacaan wajib. Dapatkan dan rasakan sendiri “keresahan yang ditertawakan” dari halaman pertama.
