Banyak buku tentang salat yang diterbitkan dengan penulisan dan cara penyajian yang beragam. Namun, sejauh pengamatan yang dilakukan penulis, pembahasan yang ada belum memenuhi keinginan pembaca. Maka dari itu penulis merasa tergugah untuk menyusun sebuah buku yang berjudul “Mudah dan Cepat Belajar Salat” ini. Dengan memperbaiki dan melengkapi metodemetode yang masih kurang, sehingga lebih mudah dipahami dan dimengerti.
Temukan kisah yang jujur, getir, dan lucu dalam Ulid, novel karya Mahfud Ikhwan yang menggambarkan kehidupan anak kampung dengan cara yang tidak biasa. Lewat sudut pandang Ulid—bocah cerdas, keras kepala, dan tajam lidah—kamu akan diajak menertawakan realita sosial yang pahit, menyentuh luka keluarga, hingga mempertanyakan mimpi di tengah keterbatasan. Ulid bukan sekadar cerita anak kecil, tapi potret besar tentang tumbuh di pinggiran, melawan nasib dengan akal dan kata-kata. Bagi kamu yang suka novel dengan kritik sosial yang halus tapi mengena, ini bacaan wajib. Dapatkan dan rasakan sendiri “keresahan yang ditertawakan” dari halaman pertama.
Menjadi pekerja selama belasan tahun dan mengalami perpindahan era dari cetak ke digital membuat saya menyadari satu hal. Ketika sudah bekerja di satu tempat pun, jangan pernah membatasi diri untuk mendapatkan insight dari tempat-tempat berbeda. Jangan mengurung diri di dalam tempurung.
Halo, aku Indi. Aku adalah yang dulunya gadis remaja di buku yang akan kalian baca ini, —tapi sekarang sudah dewasa. Buku ini berisi kumpulan tulisan tentang hari-hariku ketika bersama Mika, sahabat sekaligus pacar pertamaku. Seperti kebanyakan remaja, hubungan kami dulu layaknya roller coaster; ada naik dan turunnya, ada bahagia dan sedihnya.
Halo, ada penawaran spesial untuk kalian nih. Kalian dapat memiliki buku sekaligus dengan totebag eksklusif (berbahan kanvas) selama persediaan masih ada.
Waktu yang Tepat untuk Melupakan Waktu merupakan buku kumpulan puisi karya M. Aan Mansyur yang secara garis besar mengangkat tema atau berbahan dasar tentang pertanyaan-pertanyaan perihal imajinasi hidup bersama. Tentang hilangnya banyak “kita”—yang dalam sajak ini bukan hanya kita manusia, tapi juga berarti bahwa manusia hanya bagian kecil dari kita yang lebih besar. Isu yang dibahas juga beragam dalam tiap sajak dan hal tersebut bisa digambarkan lewat kutipan Audre Lodre yang kelak akan teman-teman pembaca temukan pada epigraf buku ini, “Tidak ada itu perjuangan isu tunggal, karena kita tidak menjalani masalah hidup tunggal.” Kira-kira begitu. Secara bentuk juga sangat beragam, diwakili oleh kutipan Scholes yang juga terdapat dalam epigraf buku ini, bahwa puisi bisa dilihat bukan sebagai satu genre, tetapi sistem penyampaian, sebentuk medium, di mana di dalamnya bisa ada sejumlah genre.